Toyota Ajak Pabrikan Otomotif Jepang Kembangkan Bahan Bakar Alternatif

Andrygmv.net —

Toyota menyebut bakal bermitra dengan sejumlah produsen kendaraan Jepang lain untuk mengembangkan bahan bakar alternatif untuk produk mobil.

Toyota berencana untuk mengeksplorasi kelayakan bahan bakar hijau alternatif untuk mobil mesin pembakaran internal alias Internal Combustion Engine (ICE). Termasuk hidrogen dan bahan bakar sintetis yang berasal dari biomassa.

Selain Toyota, perusahaan otomotif asal Jepang lain yang bergabung yakni Mazda, Subaru, Yamaha Motor dan Kawasaki. Kelima produsen otomotif itu mengumumkan rencananya tersebut di Sirkuit Okayama, Jepang bagian barat, tempat Toyota sedang berlomba dengan mobil hidrogennya pada Sabtu (13/11) waktu setempat mengutip Reuters, Senin (15/11).

Mobil balap hidrogen ini dikemudikan kepala eksekutif Toyota Akio Toyoda bersama dengan pembalap Toyota lainnya.

Sementara itu, untuk mengubah mesin pembakaran internal menjadi bahan bakar hijau seperti hidrogen secara teknologi disebut sulit. Akan tetapi hal itu dapat memungkinkan perusahaan untuk mendukung rantai pasokan yang sudah ada selama beberapa dekade yang selama ini telah mempekerjakan ratusan ribu pekerja.

Para pekerja tersebut bisa saja kehilangan pekerjaan yang menjadi mata pencarian mereka ketika produsen beralih membangun kendaraan listrik ( EV).

Ketika negara-negara memperketat peraturan lingkungan untuk mengurangi emisi karbon, pembuat mobil termasuk Toyota, meningkatkan produksi EV. Jepang telah mengungkapkan tujuannya untuk menjadi netral karbon pada tahun 2050 dan mempromosikan penggunaan bahan bakar hidrogen.

Selain itu, Toyota juga berencana untuk mengeluarkan 15 model mobil listrik EV pada 2025 dan menginvestasikan US$13,5 miliar atau sekitar Rp192 triliun selama dekade berikutnya untuk memperluas kapasitas produksi baterai. Pada saat yang sama, mereka terus mengembangkan kendaraan bertenaga hidrogen.

Toyota ogah tandatangan perjanjian COP26

Sementara itu, Toyota Motor Corp menjadi satu dari sekian banyak pabrikan produsen otomotif yang ogah untuk menandatangani perjanjian di KTT COP26 Glasgow.

Toyota menyebut sebagian besar dunia belum sepenuhnya siap untuk kendaraan tanpa emisi di 2040. Sebab itu, mereka juga tidak mau menandatangani perjanjian di COP26 yang menghapus mobil berbahan bakar fosil pada tahun 2040 seperti yang dilakukan beberapa produsen lain.

Enam produsen mobil besar diketahui ikut menandatangani perjanjian di Deklarasi Glasgow tentang mobil tanpa emisi di COP26. Mereka adalah General Motors, Ford, Volvo dan Daimler AG, seperti yang dilakukan sejumlah negara termasuk India.

“Kami siap untuk mempercepat dan membantu mendukung dengan kendaraan nol-emisi yang sesuai. Namun, di banyak wilayah di dunia seperti Asia, Afrika, Timur Tengah, lingkungan yang cocok untuk mempromosikan transportasi tanpa emisi penuh belum ditetapkan,” kata juru bicara tersebut dikutip dari Autoblog.

“Kami pikir akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk membuat kemajuan. Dengan demikian, sulit bagi kami untuk berkomitmen pada pernyataan bersama di tahap ini,” imbuhnya.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh Munich Mobility Show pada April lalu, ada perbedaan global besar dalam kepemilikan kendaraan listrik. Misalnya soal penjualan di mana di Uni Eropa, China dan Amerika Serikat penjualan mobil listrik disebut telah melonjak tajam.

Akan tetapi, pendaftaran mobil listrik kumulatif hingga 2020 di Amerika Selatan yang punya populasi lebih dari 420 juta, berada di bawah 18 ribu. Sedangkan di Afrika yang merupakan rumah bagi 1,2 miliar orang, jumlahnya hanya mencapai 1.509 mobil khusus di Afrika Selatan sampai tahun 2020.

Volkswagen juga mengatakan waktu mengadopsi kendaraan listrik akan bervariasi dari satu wilayah ke wilayah lain. Hal itu juga yang membuat Chief Executive, Herbert Diess menolak janji nol-emisi pada konferensi COP26.

“Masih masuk akal untuk menggunakan mobil bahan bakar sintetis di Amerika Latin pada 2035,” ucap Diess.

[Gambas:Video CNN]

(TTF/mik)

[Gambas:Video CNN]