Pakar Bongkar Rahasia TikTok ‘Hipnotis’ Milenial dan Gen Z

Andrygmv.net —

TikTok menyedot perhatian dengan menyabet predikat website terpopuler 2021 dengan melampaui dominasi Google dan Facebook.

Pengamat budaya dan komunikasi digital dari Universitas Indonesia, Firman Kurniawan membongkar rahasia TikTok dalam ‘menghipnotis’ milenial dan Gen Z.

Menurut Firman, keistimewaan TikTok dibanding platform media sosial lainnya ada pada ruang penciptaan konten yang sesuai dengan demografi.

“Keistimewaan tiktok dibanding aplikasi media sosial lainnya adalah disediakannya ruang penciptaan konten yang sesuai dengan demografinya,” kata Firman kepada CNNIndonesia.com melalui pesan teks, Jumat (24/12).

Menurut Firman, demografi audiens TikTok yang didominasi milenial dan Gen Z sangat sesuai dengan konten video yang disajikan TikTok.

“Demografi target audience tiktok adalah mereka yang berusia milenial akhir, kelahiran 90-an hingga awal 2000-an. Mereka saat ini berusia sekitar 20-30. Sehingga konten yang sesuai dengan kelompok ini adalah video,” katanya.

Ruang Kreasi

Selain cocok dengan demografinya, TikTok yang menyediakan ruang kreasi melalui fitur-fitur yang disajikannya memberi daya tarik lebih bagi pengguna.

“Tiktok menyediakan ruang kreasi produksi video bagi penggunanya, dengan keleluasaan untuk memanfaatkan filter yang beragam, fasilitas pengaturan kecepatan video yang mudah dioperasikan,”

“Akses ke audio profesional yang dapat dimanfaatkannya sebagai latar suara video hingga fasilitas lipsync yang mudah digunakan,” jelas Firman.

Firman menyebut sebenarnya apa yang disajikan TikTok sebetulnya mirip dengan yang ditawarkan Instagram, namun bedanya Instagram lebih fokus pada fotografi.

“Ini merupakan dukungan penyedia platform yang serupa dengan yang disediakan instagram. Instagram memanjakan penggunanya dalam memproduksi konten berbentuk fotografi. Para pengguna ini dibekali fasilitas untuk menghasilkan foto terbaik, ala profesional,” ujar Firman.

Lebih lanjut, TikTok dengan algoritmanya ‘memaksa’ pengguna untuk menjadi se-kreatif mungkin dalam membuat konten jika ingin kontennya dilihat banyak pengguna lain.

“Dalam durasi 60 detik harus mampu menciptakan daya tarik bagi pengguna lain,” ujar Firman.

“Dan berbeda dengan Google atau media sosial lainnya, algoritma tampilan teratas konten pada platform, ditentukan oleh akses pengguna lain. Makin sering konten diakses maka posisinya akan teratas,” tambahnya.

Meski demikian, Firman menyebut bahwa algoritma TikTok masih menjadi teka-teki hingga saat ini.

Sebagai informasi, TikTok dilaporkan berhasil menggantikan raksasa teknologi Google sebagai situs web paling banyak dikunjungi pada tahun 2021.

Google sendiri pada 2020 lalu hingga awal 2021 selalu bertengger di posisi puncak situs web paling banyak dikunjungi.

(lnn/fjr)

[Gambas:Video CNN]