Knalpot Mobil Diesel Mesti Dipupuk Kurangi Emisi

Tangerang, CNN Indonesia —

Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan industri di Indonesia punya ‘PR’ (pekerjaan rumah) mengembangkan pupuk urea untuk knalpot mesin diesel yang gunanya mengurangi NOx (Nitrogen Oksida). Hal ini dilandasi Indonesia merupakan negara penghasil urea terbesar di ASEAN.

Airlangga menyinggung soal teknologi di Eropa yang menerapkan urea di komponen penyaring gas buang knalpot mesin diesel, catalytic converter.

“Tentu dengan pengembangan teknologi di Eropa sudah menerapkan catalytic converter untuk mesin diesel, dan untuk itu teknologinya sebetulnya sederhana urea yang di-disolve [dilarutkan], urea solution,” kata Airlangga dalam pidatonya di pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS), Kamis (11/11).

Nah itu Indonesia juga perlu memikirkan bagaimana di industri berbasis diesel, exhaust perlu kita pikirkan, karena kita salah satu penghasil urea terbesar di ASEAN,” ujar dia lagi.

Berdasarkan penjelasan Emigreen, teknologi pemanfaatan urea untuk knalpot mesin diesel disebut Selective Catalytic Reduction (SCR). Guna teknologi ini yakni mengurangi emisi NOx yang dihasilkan mesin diesel.

Sistem SCR memanfaatkan cairan amonia untuk mengubah NOx yang beracun menjadi nitrogen dan uap air yang tidak berbahaya.

Cara kerjanya yakni kombinasi air dan urea dimasukkan ke aliran udara di knalpot. Lalu saat cairan itu menguap, urea diubah menjadi amonia yang kemudian mengikat nitrogen dioksida di gas emisi.

Catalytic converter mengurangi komponen beracun dalam gas emisi kemudian mengubahnya menjadi nitrogen dan uap air. Kedua zat itu lantas dikeluarkan dengan aman dari knalpot yang kemudian bercampur dengan udara.

“Jadi yang dipupuki bukan hanya sawah, tapi knalpot pun harus kita pupuk supaya NOX-nya itu bisa dikurangi. Jadi itu PR buat industri,” ucap Airlangga.

Menurut Airlangga teknologi Internal Combustion Engine (ICE) belum akan berakhir, meski saat ini teknologi elektrifikasi berkembang signifikan. Kata dia perkembangan berikutnya adalah fuel cell yang berbasis hidrogen.

“Ke depannya kita tidak boleh ketinggalan teknologi berbasis hidrogen yang juga bisa secara jangka pendek disuplai industri berbasis amonia. Dan kita yang pabrik pupuknya sudah oversupply dan ekspor tentu dari segi teknologi sudah memiliki kemampuan,” ucap Airlangga.

(fea)

[Gambas:Video CNN]