Belajar Memahami Media Informasi Kunci Tak Tersesat Belantara Hoaks

Andrygmv.net —

Komisi penyiaran Indonesia (KPI) menggelar acara Gerakan Literasi Sejuta Pemirsa (GLSP) terakhir pada 2021 di kota Sorong, Papua Barat, Rabu (17/11). Acara ini digelar agar masyarakat tak tersesat di belantara informasi dan terjebak hoaks yang kerap beredar.

Gerakan untuk meningkatkan literasi masyarakat dalam mengolah informasi pada tahun ini dilaksanakan pertama kali di Pulau Belitung, tepatnya pada 18 Februari.

Pada tahun ini acara GLSP mengusung tema ‘Cerdas Bermedia Menuju Siaran Berkualitas’.

Saat ini paparan informasi yang melimpah baik dari media konvensional seperti televisi, radio dan media cetak, ataupun media baru seperti internet dan media sosial disebut perlu diimbangi kapasitas literasi media yang kuat.

Kapasitas literasi media tersebut adalah kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, serta mengomunikasikan informasi dalam berbagai bentuk media.

Dengan demikian masyarakat tidak akan tersesat dalam belantara informasi dan juga tidak jatuh dalam jebakan hoaks, ujaran kebencian, ajakan kekerasan, ataupun konten porno yang kerap hadir di tengah-tengah limpahan informasi tersebut.

Komisioner KPI Pusat bidang Kelembagaan, Hardly Stefano Pariela, menjelaskan, hingga saat ini mayoritas masyarakat Indonesia masih menonton televisi baik melalui siaran free to air (FTA) ataupun televisi berlangganan (Pay TV).

Meski sebagian besar masyarakat sudah mulai beralih ke internet, televisi masih menjadi media yang dijadikan sumber rujukan bagi masyarakat.

Agenda migrasi siaran televisi digital yang tahap akhirnya dijadwalkan pada 2 November 2022 mendatang disebut akan menghadirkan saluran-saluran televisi yang lebih banyak dari jumlah yang ada sekarang.

Selain itu, saat ini perkembangan teknologi turut menggiring masyarakat menuju digitalisasi yang semakin masif dan meningkatkan aktivitas di ruang internet. Bahkan masyarakat yang dulunya hanya sekedar konsumen, saat ini bisa menjadi produsen informasi dalam berbagai bentuk.

“Setiap orang berkesempatan menjadi produsen informasi yang dapat diakses oleh jutaan penonton”, ujar Hardly saat menjadi narasumber di acara GLSP Sorong, Rabu (17/11).

Kondisi tersebut membuat perlunya peningkatan kapasitas literasi media agar masyarakat memiliki ketahanan informasi yang baik. Dengan kapasitas literasi yang baik, masyarakat disebut akan mampu menjadikan media sebagai alat mendapatkan informasi yang bermanfaat baik untuk diri sendiri ataupun lingkungan sekitarnya.

Media lama vs media baru

Lebih lanjut, Hardly memaparkan perbedaan signifikan pada media konvensional atau media lama dan media baru.

Secara prinsip dikatakan bahwa media konvensional yang diwakili televisi dan radio, hadir di masyarakat sebagai sebuah entitas bisnis terikat regulasi serta tanggung jawab sosial. Sedangkan media baru sampai saat ini belum memiliki regulasi konten yang tegas.

Kemudian media baru pun dikelola masing-masing individu yang tidak punya kewajiban sosial di masyarakat.

“Jangan heran kalau hoaks, ujaran kebencian, atau pornografi memiliki lahan yang subur di media baru, karena belum ada regulasi yang rinci tentang konten di sana,” ujar Hardly.

Hardly mengharapkan peserta yang merupakan kaum ibu, dapat memberikan keteladanan pada anak-anaknya dalam mengonsumsi media. Salah satunya dengan hanya menonton siaran televisi yang baik dan meninggalkan siaran televisi yang memiliki konten negatif.

Selain itu, Hardly juga mengingatkan pada kaum ibu di Papua Barat agar memahami penggunaan fitur kunci parental pada televisi berlangganan. Dengan fitur ini, orang tua dapat mengatur saluran mana saja yang dapat diakses anak-anak dan yang tidak boleh sama sekali.

Hardly mengatakan orang tua sebaiknya selalu hadir mendampingi anak-anak dalam menonton televisi atau pun mengakses media lainnya.

Hal ini dipaparkan Hardly karena sebagian besar wilayah Papua Barat hanya dilayani oleh lembaga penyiaran berlangganan atau Pay TV.

(lnn/fea)

[Gambas:Video CNN]