Ahli Kritik Larangan Cuti Nataru

Andrygmv.net —

Ahli menyayangkan Satgas Covid-19 dan pemerintah termasuk Menko PMK Muhajir Effendi yang melakukan pelarangan cuti saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) mendatang.

Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono menilai pelarangan cuti merugikan bisnis yang diuntungkan dengan momen libur tersebut. Ia juga mengkritik kebijakan yang melarang cuti saat Nataru. Sebab menurutnya kegiatan cuti saat akhir tahun itu tidak berkaitan dengan kenaikan kasus Covid-19.

Saat ini, menurut Pandu yang harus dilakukan adalah mengimplementasikan apa yang sudah dikerjakan pemerintah terkait pengendalian Covid-19 di Indonesia. Hanya saja, jangan sampai merugikan orang lain.

“Kekhawatiran boleh, tapi jangan sampai merugikan orang. Panik banget, orang cari makan, orang yang punya bisnis di Nataru berantakan karena paranoid orang-orang dan pejabat di PMK,” jelas Pandu kepada CNNIndonesia.com, Selasa (23/11).

Menurutnya kebijakan itu diambil dilandasi ketakutan akibat permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) supaya tidak terjadi lagi lonjakan kasus di Indonesia.

Pandu menyebut masyarakat Indonesia boleh menggelar pesta perayaan tahun baru 2022 asalkan sudah mendapatkan dua kali dosis vaksin Covid-19.

Jelang Nataru, pemerintah terus mengantisipasi terjadinya gelombang tiga lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia. Meski begitu, Pandu meyakini bahwa tidak akan terjadi hal yang ditakutkan pasca Nataru mendatang.

“Mau bikin pesta tahun baru boleh, tapi pakai tes antigen, dan hanya orang-orang yang sudah divaksinasi saja. Jangan mengundang orang-orang yang belum divaksinasi, mereka jangan diajak kumpul dan tetap menerapkan protokol kesehatan. Minimal pakai masker kalau di tempat tertutup,” katanya.

Menurut Pandu, kondisi saat ini berbeda dengan Nataru tahun lalu, sehingga menurutnya situasi penularan akan tetap landai meski tak dipungkiri ada kemungkinan lonjakan kasus.

Selain itu syarat bepergian dengan syarat sudah divaksinasi, tes antigen atau PCR negatif juga dinilai membantu mengurangi lonjakan kasus.

[Gambas:Video CNN]

(TTF/eks)

[Gambas:Video CNN]